Entri Populer

Selasa, 01 Februari 2011

pendekatan Teologi,Normatif dan antropologi dalam studi Islam

BAB I

PENDAHULUAN

Agama bukan hanya sekedar lambang kesalehan umat atau topik dalam kitab suci umat beragama,namun secara konsepsional kehadiran agama semakin dituntut aktif untuk menunjukkan cara-cara paling efektif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia.

Tuntutan yang demikian itu akan mudah dijawab oleh kita sebagai kalangan intelektual muslim dan siapa saja tatkala kita sebagai muslim memahami “agama kita sendiri”.bukan hanya sekedar pemahaman dengan pendekatan teologis normatif namun juga harus dilengkapi dengan pendekatan lain,yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban atas permasalahan-permasalahan umat.

Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu pengetahuan yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.

Berdasarkan latar belakang persoalan diatas,maka dirasa penting untuk mengetahui berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama sekaligus menjawab permasalahan-permasalahan umat manusia.sehingga agama akan terasa lebih bermakna dan hadir kokoh dalam masyarakat tatkala kita paham akan agama kita.sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut,agama akan menjadi sulit untuk difahami oleh masyarakat,tidak fungsional dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada selain agama (Naudzubillahi Min Dzalik)


BAB II

PEMBAHASAN

1. Pendekatan Teologis

Pendekatan teologis sering disebut juga sebagai perpektif timur,Pendekatan teologis berarti pendekatan kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti itu sendiri.dimana agama tidak lain merupakan hak prerogatif tuhan sendiri.realitas sejati dari agama adalah sebagaimana yang dikatakan oleh masing-masing agama.[1]pendekatan seperti ini biasanya dilakukan dalam penelitian suatu agama untuk kepentingan agama yang diyakini peneliti tersebut untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya itu.

Yang termasuk kedalam penelitian teologis ini adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh ulama-ulama,pendeta,rahib terhadap suatu subjek masalah dalam agama yang menjadi tanggung jawab mereka,baik disebabkan oleh adanya pertanyaan dari jamaah maupun dalam rangka penguatan dan mencari landasan yang akurat bagi suatu mazhab yang sudah ada.

Pendekatan teologis memahami agama secara harfiah atau pemahaman yang menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.[2]

Amin Abdullah dalam bukunya metodologi study islam mengatakan, bahwa teologi, seba­gaimana kita ketahui, tidak bisa tidak, pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen, dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran-teologis.

Pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham lainnya salah, sehingga memandang paham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan seterusnya. Demikian pula paham yang dituduh keliru, sesat, dan kafir itu pun menuduh kepada lawannya sebagai yang sesat dan kafir. Dalam keadaan demikian, maka terjadilah proses saling meng-kafir-kafirkan, salah menyalahkan dan seterusnya. Dengan demikian, antara satu aliran dan aliran lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai. Yang ada hanyalah 1ketertutupan (eksklusifisme), sehingga yang terjadi adalah pemisahan dan terkotak-kotak.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa pendekatan teologi semata-mata tidak dapat memecahkan masalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini. Terlebih-lebih lagi kenya­taan demikian harus ditambahkan bahwa doktrin teologi, pada dasarnya memang tidak pernah berdiri sendiri, terlepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya. Kepentingan ekonomi, sosial, politik, pertahanan selalu menyertai pemikiran teologis yang sudah mengelompok dan mengkristal dalam satu komunitas masyarakat tertentu. Bercampur aduknya doktrin teologi dengan historisitas institusi sosial kemasyarakatan yang menyertai dan mendukungnya menam­bah peliknya persoalan yang dihadapi umat beragama.[3]

Uraian di atas bukan berarti kita tidak memerlukan pendekatan teologi dalam memahami agama, karena tanpa adanya pendekatan teologis, keagama­an seseorang akan mudah cair dan tidak jelas identitas dan pelembagaannya. Proses pelembagaan perilaku keagamaan melalui mazhab-mazhab sebagai­mana halnya yang terclapat dalam teologi jelas diperlukan. Antara lain berfung­si untuk mengawetkan ajaran agama dan juga berfungsi sebagai pembentukan karakter pemeluknya dalam rangka membangun masyarakat ideal menurut pesan dasar agama. Tetapi, ketika tradisi agama secara sosiologis mengalami reifikasi atau pengentalan, maka bisa jadi spirit agama yang paling "hanif' lalu terkubur oleh simbol-simbol yang diciptakan dan dibakukan oleh para peme­luk agama itu sendiri. Pada taraf ini sangat mungkin orang lalu tergelincir menganut dan meyakini agama yang mereka buat sendiri, bukan lagi agama yang asli, meskipun yang bersangkutan tidak menyadari.

Sikap eksklusifisme (ketertutupan) teologis dalam memandang perbedaan dan pluralitas agama sebagaimana tersebut di atas tidak saja merugikan bagi agama lain,tetapi juga merugikan diri sendiri karena sikap semacam itu sesungguhnya mempersempit masuknya kebenaran-kebenaran baru yang bisa membuat hidup ini lebih lapang dan lebih kaya dengan nuansa

2. Pendekatan Antropologis

yaitu pendekatan kebudayaan; artinya, Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan se­bagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik dan sistem keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sebagai suatu sistem ide,wujud ataupun nilai dan norma yang dimiliki oleh anggota masyarakat yang mengikat seluruh anggota masyarakat.[4]

Sistem budaya agama itu memberikan pola kepada seluruh tingkah laku anggota masyarakat, dan melahirkan hasil karya keagamaan yang berupa karya fisik, dari bangunan tempat ibadah seperti mesjid, gereja, Pura & klenteng,sampai pada upacara yang sangat sederhana seperti tasbih.

Contoh Pendekatan Antropologis telah dilakukan diantaranya oleh EB.Taylor. Tylor mengadakan penelitian pada bangsa-bangsa primitif. ia meneliti suku bangsa yang paling sederhana di Afrika dan Asia.salah satunya suku Asmat. berdasarkan penelitiannya, ternyata suku bangsa yang paling sederhana (primitif) mempercayai roh animisme. Menurutnya, tahap awal agama adalah kepercayaan animisme;kepercayaan bahwa alam semesta ini mempunyai jiwa. Bentuk sekecil apa pun dari benda bagian alam semesta mempunyai roh yang menggerakkan dan yang membuat ia hidup.

Kepercayaan ini fundamental dan universal.artinya, bisa berada di semua bangsa dan masyarakat serta bisa menerangkan pemujaan terhadap orang mati, pemujaan terhadap leluhur atau nenek moyang, juga menjelaskan asal mula para dewa. Dalam tahap berikutnya, animisme berkembang menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa (politeisme), dan dalam perkernbangan selanjutnya, kemudian berkembang lagi menjadi pemujaan terhadap Tuhan Yang Esa (monoteisme).[5]

Dengan demikian,pendekatan antropologis sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama serta menjelaskan hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia,karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan antropologi.

3. Pendekatan Normatif

Pendekatan normatif erat kaitannya dengan pendekatan teologis.pendekatan normatif yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikit pun dan tampak bersikap ideal. Dalam kaitan ini agama tampil sangat prima dengan seperangkat cirinya yang khas. Untuk agama Islam misalnya, secara normative pasti benar, menjunjung nilai-nilai luhur. Untuk bidang social, agama tampil menawarkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, kesetiakawanan, tolong menolong, tenggang rasa, persamaan derajat dan sebagainya. Untuk bidang ekonomi agama tampil menawarkan keadilan, kebersamaan, kejujuran, dan saling menguntungkan. Untuk bidang ilmu pengetahuan, agama tampil men­dorong pemeluknya agar memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang setinggi-tingginya, menguasai keterampilan, keahlian dan sebagainya. Demi­kian pula untuk bidang kesehatan, lingkungan hidup, kebudayaan, politik dan sebagainya agama tampil sangat ideal dan yang dibangun berdasarkan dalil­dalil yang terdapat dalam ajaran agama yang bersangkutan.[6]

BAB III

KESIMPULAN

1. Pendekatan Teologis

Pendekatan teologis berarti pendekatan kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti itu sendiri. pendekatan seperti ini biasanya dilakukan dalam penelitian suatu agama untuk kepentingan agama yang diyakini peneliti tersebut untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya itu.

Sikap eksklusifisme (ketertutupan) teologis dalam memandang perbedaan dan pluralitas agama sebagaimana tersebut di atas tidak saja merugikan bagi agama lain,tetapi juga merugikan diri sendiri karena sikap semacam itu sesungguhnya mempersempit masuknya kebenaran-kebenaran baru yang bisa membuat hidup ini lebih lapang dan lebih kaya dengan nuansa

2. Pendekatan Antropologis

yaitu pendekatan kebudayaan,pendekatan ini lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dengan demikian,pendekatan antropologis sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama serta menjelaskan hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia.

4. Pendekatan Normatif

Pendekatan normatif erat kaitannya dengan pendekatan teologis.pendekatan normatif yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.



[1] M.Amin Abdullah,Metodologi study agama(yOgyakarta,pustaka belajar,2000)hal 22.

[2] H.Abuddin nata,Metodologi study Islam(jakarta,Raja Grafindo,2008)hal 28

[3] M.Amin Abdullah,Metodologi study agama(yOgyakarta,pustaka belajar,2000)hal 31

[4] H.Abuddin nata,Metodologi study Islam(jakarta,Raja Grafindo,2008)hal35

[5] Dadang Kahmad,Sosiologi Agama(bandung,Remaja Rosdakarya,2000)hal 91

[6] H.Abuddin nata,Metodologi study Islam(jakarta,Raja Grafindo,2008)hal34

1 komentar:

  1. termuda??
    mksd dari profil kamu??

    uda semester brapa?

    kunjungi jg blog saya

    BalasHapus